Greyfriars Bobby

20 Agu

Judul : Greyfriars Bobby

Pengarang : Eleanor Atkinson

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Agustus, 2010

Awal terbit : 1905

8994306

 

Suram, itu merupakan hal pertama yang terpintas kalau melihat buku ini. Gimana nggak suram, gambar anjing kecil dengan sebuah batu nisan adalah cover terpilih untuk novel ini. Seakan kurang menyuramkan, warna abu – abu lah yang dipilih untuk menemani mereka melapisi halaman depan buku. Ada kutipan terkenal yang mengatakan jangan memandang buku dari covernya, karena belum tau tentang isinya. Namun nampaknya, buku ini merupakan pengecualian.

Greyfriars Bobby adalah sebuah cerita tentang Bobby yang tinggal di pekuburan Greyfriars pada jaman dahulu kala. Bobby adalah seekor anjing kecil dengan jenis Sky Terrier. Anjing kecil ini adalah milik seorang penggembala miskin bernama Auld Jock. Seperti apa yang ditampilkan covernya, cerita dari anjing kecil ini menyedihkan dan membuat pilu. Anjing kecil ini ditinggal mati majikannya di sebuah penginapan murahan dekat Greyfriars. Sejak saat itu, anjing kecil yang sangat setia ini, menjadi penghuni tetap di pemakaman Greyfriars. Mau apa dia disana ? Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjaga makam Auld Jock.

Masalah pun datang dari penjaga makam yang tidak memperbolehkan anjing liar berkeliaran disana, dari cuaca yang begitu dingin (yah, bisa kita lihat di covernya yang kayaknya ada salju-saljunya di antara warna abu – abu putih ), dari kepolisian dan macam-macam membuat kisah Bobby tidak kalah suram dari sampul bukunya.

Kebetulan saya membaca buku ini versi terjemahan Gramedia, waktu itu dikasih mama yang liat di toko buku terus langsung ambil aja secara random huahaha (thank you, ma).  Setelah membaca buku ini dan tanpa mengurangi rasa terima kasih saya kepada mama, saya hanya ingin berterus terang kalau saya tidak begitu menikmati buku ini. Membaca buku ini halaman demi halaman sangat butuh perjuangan ekstra. Terjemahannya sulit sekali dimengerti, entah mungkin karena ini buku klasik jadul yang menggunakan bahasa-bahasa sulit (penuh dengan aksen Scottish) sehingga agak susah diterjemahkan atau memang terjemahannya yang njelimet saya tidak tahu. Alhasil niatnya mau menikmati sebuah kisah ringan yang bisa buat tersedu – sedu, malah kebingungan dan hampir saja DNF.

Sangat disayangkan sebenarnya, karena menurut saya cerita tentang Bobby si anjing kecil ini lumayan membuat haru. Oh ya, kisah anjing kecil yang setia di samping makam pemiliknya ini adalah sebuah kisah nyata yang ditambahi beberapa bumbu fiksi. Setelah membacanya, saya baru sadar kalau ternyata memang ada patung untuk mengenang si anjing Bobby yang didirikan di Edinburgh.

Setelah membaca buku ini,s aya jadi agak ogah – ogahan membaca buku klasik yang diterjemahkan. Well… J saya lebih merekomendasikan untuk membaca versi bahasa aslinya.

2.5/5

Greetings from Erebos

15 Mei

Judul : Erebos

Penulis : Ursula Poznanski

Tahun terbit : 2010

24605892

”Salam, Tanpa Nama.” Hurufnya yang berwarna perak terlihat kontras dengan latar belakang yang hitam. “Kau cukup cepat.”

Covernya yang warna merah terang , membuat saya berpikir ketika mendapatkan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Ini buku tentang siksaan kubur atau apa ya, apakah fantasy berisi Gollem dan Syaiton. Apalagi dengan adanya caption di bawah judul, “Enter the game and prepare to die” dengan berdarah-darah makin membuat saya yakin ini buku penuh dengan laknat –laknat luar biasa dan segala jenis setan – setan yang bisa dimunculkan dalam dunia literatur.

Ursula Poznanski, seperti yang bisa dilihat di cover buku adalah seorang pemenang penghargaan di Jerman. Buku inilah yang membawa namanya dalam memenangkan German Youth Literature Prize dan beberapa penghargaan lainnya. Biasanya buku –buku yang memenangkan penghargaan memang membuat saya penasaran, emangnya ada apa sih dengan buku tersebut. Nah, buku ini lebih membuat saya penasaran lagi karena saya belum pernah dengar sama sekali sebelum saya dikasi bukunya secara nyata hahaha. Lagipula buku dengan cover merah berapi-api dan makhluk-makhluk seperti golem meraih nama Erebos adalah sesuatu yang mengerikan, kok bisa menang penghargaan. (Me being soft…)

“Jadi, Nick!”, bisik Brynne. “Aku mau menghadiahimu sesuatu. Barang ini keren sekali. Sumpah!!”

Oke Brynne terima kasih atas pemberianmu kepada Nick Dunmore sehingga kita bisa meneruskan cerita ini dan memiliki tokoh utama yang biasa saja dan tidak menyebalkan. Jadi Erebos adalah nama sebuah game yang beredar secara diam- diam dalam bentuk CD di sekolah Nick Dunmore. Sudah berminggu – minggu terlihat anak –anak ini pada kasak kusuk mengedarkan sebuah CD yang rumornya adalah album baru Linkin Park yang belum dirilis pasaran. Geez. Setelah beberapa lama Nick, jagoan kita, merasa bertanya – Tanya tentang album Linkin Park ini, akhirnya dia mendapatkannya dari seorang cewek yang naksir berat padanya, Brynne.  Betapa senangnya Nick ketika mengetahui Erebos adalah sebuah game. Game yang sangat nyata, mulai dari grafik sampai NPC (non player character) yang bisa menjawab pemain dengan sangat interaktif.

Tidak lama waktu yang dibutuhkan buku ini untuk mengambil hati saya. Mengetahui buku ini tentang sebuah game yang sangat keren, saya langsung kegirangan. Yaaaay! Another Ready Player One! Eits, jangan salah dulu, buku ini tidak bisa disamakan dengan RPO, walaupun sama – sama YA dan bertemakan sebuah game, tapi buku ini lebih down to earth dan tetap pada dunia nyata dan permasalahan dunia nyata anak remaja juga masih sangat banyak dibahas.

Seperti game MMORPG yang biasa, dasar dari game ini adalah sama. Pemain bisa memilih karakternya sendiri dan penampilan di game sendiri. Hanya saja peraturan di game ini membuatnya benar-benar menarik. Tidak ada yang boleh memberi tahu siapa-siapa mengenai kehidupan di dalam game. Selain itu, entah bagaimana game ini terkesan sangat nyata dan juga memiliki misi – misi rahasia yang harus dijalankan di kehidupan nyata. Wow, salah satu ide yang keren oleh penulis. Hanya saja , ceritanya mulai menjadi menegangkan karena ternyata misi-misi yang dilakukan pemain, termasuk jagoan kita, mulai mencurigakan dan seperti memiliki misteri besar di dalamnya. Bahkan beberapa kali saya sempat berharap Nick menghentikan permainan ini saking terkesan bahayanya.

Saya cukup senang dengan pemilihan tokoh utama Erebos, Nick Dunmore. Saya memang lagi kepengen membaca buku dengan tokoh utama laki-laki remaja yang tidak berpikir cinta-cintaan melulu. Mungkin karena masih hangover dengan SaS. Thank God, Nick Dunmore menjawab segalanya (acak-acak rambut gondrong Nick). Oke, Nick memang pas dengan cerita ini. Anak remaja yang bukan nerd bukan juga sok songong terkenal. Seperti anak remaja pada umumnya,Nick memang punya beberapa masalah di dalam keluarganya. Namun Nick tidak terlalu ambil pusing. Oh ya, yang paling saya suka adalah Nick tidak suka kimia padahal dia pengen masuk kedokteran HAHAHAHAH (I like you, kid).

Nick punya beberapa teman dan punya gebetan yang enggak nyebelin seperti dirinya. Nick naksir berat sama Emily yang suka banget galau – galau bikin puisi di devianART. Anehnya Nick dan Emily memiliki cerita cinta yang tidak memuakkan dan lembek seperti harus mengorbankan satu sama lain lah, ada yang disandra lah, amnesia lah, apa lah. Pokoknya cerita cinta mereka biasa seperti pada umumnya remaja dan ini membuat saya sukaaa dengan ceritanya. Suatu langkah yang baik oleh Poznanski, karena dengan begitu pembaca bisa lebih menjiwai permainan mematikan namun menghanyutkan di dalam cerita. Bukan fokus ke si ini jadian sama si ini tapi si ini musuhan sama si ini.

Cara penulis menceritakan semuanya dengan tempo yang cepat membuat buku ini sangat mudah dibaca dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Yah, walaupun dengan kecepatan baca selambat kura-kura seperti saya memang tidak mungkin sih menyelesaikan buku berjumlah 576 halaman dalam sekali baca, namun buku ini benar-benar membuat penasaran dan pengen dibaca terus. Membaca buku ini membuat saya ingat masa –masa kejayaan game online yang buat saya (dan teman-teman) lupa diri dan rela begadang enggak tidur demi mendapatkan item berharga. Sepertinya penulisnya juga suka game online nih, dilihat dari penuturan canggihnya mendeskripsikan pemandangan di game tanpa kaku sama sekali.

Buku ini mengandung pelajaran yang berharga juga, bagaimana hal sesimpel dan selugu game bisa membuat hidup seseorang terjungkir balik dan bisa menggerakkan masa untuk mencapai tujuan tertentu. Setelah saya pikir-pikir, buku ini mengingatkan saya dengan novel pendek The Wave oleh Todd Strasser atau… nama penanya Morton Rhue. Hanya saja dalam buku ini The Wave terjadi dalam sebuah game. Kind of creepy when I think of it.

Saya membaca versi terjemahan Mizan Fantasi (or should I say, Noura Books ?) yang diterjemahkan oleh Puti Kellerman. Wah, senang sekali dengan terjemahannya, yah walaupun pada awalnya saya agak canggung dan ada satu dua yang bingung, tapi akhirnya saya bisa membaca buku ini dengan cepat seperti bukan buku terjemahan. Good Job:)

5/5

Geez jadi kangen si Lidocain.

I Took a Sip from Jane

5 Mei

Judul : Sense and Sensibility

Penulis : Jean Austen

Tahun Terbit : 1811

14935

Ajaib memang penulis yang satu ini untuk saya. Bisa dibilang saya suka banget juga tidak, saya males banget baca bukunya juga tidak. Gimana yah… dibilang bukunya luar biasa tidak, dibilang biasa juga tidak. Hadeh, itulah Jane Austen menurut saya. Anehnya, semua buku Jane Austen membuat saya betul-betul seperti terkena mantra pelet.  Kali ini buku yang saya baca adalah Sense and Sensibility.

Saya ingat betul, buku Sense and Sensibility adalah buku yang saya coba berulang – ulang kali dan hasilnya tetap DNF. Namun entah kenapa setiap tahunnya, saya tetap mencoba berulang – ulang. Well, memang sih ujung-ujungnya tetap DNF dengan berbagai alasan. Sibuk inilah, sibuk itulah, eh ada buku baru lah, ngejar challenge ini lah. Yang jelas, buku ini adalah salah satu buku ter DNF terlama yang pernah saya punya. Harusnya dari sini, saya bisa curiga dengan Jane Austen. Jarang ada buku DNF yang bikin saya susah move on.

Yah seperti biasa, Jane Austen memulai ceritanya dengan memperkenalkan kita kepada tokoh protagonis dan latar keluarganya. Kali ini tokoh utama dari buku ini ada dua, yaitu dua kakak adik bersaudara, Elinor dan Marianne Dashwood. Walaupun bersaudara, mereka memiliki sifat yang sangat berbeda satu sama lain, Elinor memiliki sifat yang anteng dan berpikir dulu sebelum bertindak sedangkan Marianne memiliki sifat yang lebih mementingkan hati daripada otak. Sebenarnya ceritanya simpel. Keduanya jatuh cinta pada orang yang berbeda. Elinor jatuh cinta kepada Edward Ferrars yang notabenenya adalah kakak iparnya. Marianne, si cantik dari keluarga Dashwood, jatuh cinta kepada Willoughby dengan cerita pertemuan yang ala – ala FTV.

Saya pikir keduanya benar-benar saya. Elinor yang selalu berpikir dahulu adalah saya. Marianne yang suka baper juga saya. Yap, saya orangnya yang kebanyakan berpikir dan ujung-ujungnya mengikuti kata hati juga. Jadi, saya tidak bisa menyalahkan diri kalau saya tidak bisa move on.  Seharusnya saya juga mulai curiga dengan Jane Austen, kenapa dia selalu membuat karakter yang seakan-akan mirip dengan saya. Haha, tapi di luar itu, saya benar – benar mengidolakan Elinor. Entah kenapa saya lebih menyukai tokoh Austen yang satu ini dibandingkan dengan tokohnya yang super –super terkenal dari Pride and Prejudice, Elizabeth Bennet. Mungkin karena perawakan Elinor yang tenang dan mencoba untuk melihat ke sisi positif saat sedih membuat saya suka dengan dia. Dan ingin menjadi dia. Hahah.

Sama dengan karakter perempuan, saya lebih menyukai karakter di buku ini. Walaupun hampir semua orang bilang kalau si Edward Ferrars itu tokoh laki-laki paling boring sepanjang masa dengan gayanya yang pendiam dan awkward, saya malah suka dengan dia. Entah kenapa tokoh ini lebih bersahabat dibandingkan dengan tipe-tipe cowok buku roman kebanyakan yang setelah saya pikir-pikir lagi, banyak banget yang songong- songong tapi ujung-ujungnya charming. Agak sedikit bosan dengan tokoh seperti itu. Kali ini saya suka dengan pemilihan karakter Jane Austen.

Awal buku ini membuat saya bersemangat. Namun ada beberapa bagian (banyak bagian) yang sangat – sangat lambat dan mengulur-ulur waktu sehingga kadang membuat saya kebosanan sendiri. Contohnya bagian dimana Marianne lagi galau ditinggal Willoughby dan Elinor yang juga diam-diam patah hati sehingga mereka berdua galau dan membuat saya frustasi sendiri. Bagian dimana mereka bertemu dengan banyak tamu-tamu baru membuat saya jadi kurang fokus dan sempat bingung karena curi-curi membaca di tengah aktivitas. Begitu banyak tokoh baru yang diperkenalkan, ini siapanya ini, itu siapanya itu membuat saya menjadi makin bingung. Entah berapa kali saya tidak berhasil untuk melalui bagian ini dan harus mengulang lagi dari awal. Normalnya, setelah percobaan ketiga, saya sudah menyerah. Untuk kali ini, saya terus mencoba dengan berbekal aqua dan tekad kuat. Untungnya bagian membosankan itu hanya di tengah –tengah, bagian selanjutnya mulus dan lumayan membuat saya penasaran. Akhirnya yeeeeey, saya bisa menyelesaikan membaca buku ini dengan sangat sangat puas.

Tidak bisa dipungkiri, saya memang suka dengan gaya jadul yang hiburannya dansa, jalan – jalan kaki menelusuri sekeliling pemukiman, makan – makan sambil gosip, surat – suratan dan lain sebagainya. Mungkin inilah yang bisa saya jadikan alasan kenapa saya bertahan menyelesaikan Sense and Sensibility. Bisa juga karena yang telah saya sebutkan di atas, saya suka dengan karakter ciptaan Jane Austen yang menarik dan mengingatkan saya kepada sebagian orang. Saya pikir, Jane Austen membuat buku ini menarik karena kepribadian dua kakak beradik yang sangat berbeda ini. Austen bisa membuat saya berpikir ingin menjadi Elinor sementara saya ketawa cekikikan dan kesal sendiri menyadari bahwa saya juga mirip Marianne. Hahaha.

“The more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love. I require so much!”  – Marianne, Sense and Sensibility by Jane Austen 

Lagi – lagi buku ini tidak jauh – jauh dari isu uang dan kekayaan. Saya sedikit menangkap bahwa di dalam buku ini beberapa kali terdapat adegan wanita yang mengontrol laki – laki. Seperti John Dashwood yang dikontrol Fanny, istrinya, untuk tidak memberikan uang ke adik-adik tirinya. Seperti Edward Ferrars yang mengikuti kemauan ibu dan kakaknya untuk masa depannya. Dan lagi – lagi, di dalam buku ini banyak sekali tokoh yang sebenarnya baik namun tidak bisa berhenti bicara dan bergosip. So Jane Austen. J

Saya membaca buku ini bukan untuk romantisnya, bahkan saya rasa buku ini tidak romantis tapi menyenangkan untuk dibaca. Saya suka karakternya. Saya suka dengan gaya penulisannya. Saya suka dengan kebritish-britishannya. Saya suka dengan Jane Austen. Saya tidak keberatan untuk terkena mantra Jane Austen seumur hidup.   LOL.

4/5

#Hut5BBI : Top Five BBI Member

12 Apr

Happy birthday BBI sayang. Sudah lama juga ternyata saya bukan anggota baru BBI lagi hahaha. Selamat ulang tahun, komunitas blogger pembaca sedunia! Semoga semakin rame, semakin soliiiid, semakin terkenal dan jadi motivasi buat meningkatkan minat baca. Amiiin.

hut5bbi

 

Maafkan sekali lagi maaf, sampai sekarang saya masih belum bisa sering – sering ngeblog asik.😥 padahal udah gak koas lagi, tapi masih sibuk menyiapkan hal – hal selanjutnya. Gara-gara di mention sama mbak Sulis @peri_hutan , saya baru sadar hari ini udah mulai perayaan ulang tahun BBI. Huhu, durhaka ya saya… Semoga belum dianggap telat deh posting jam segini.

My Top Five BBI Member… according to my midnight’s point of view…

  1. Buku – Buku Fanda

Sebelum saya bergabung jadi member BBI, bloger satu inilah yang sering saya pantengin secara anonim hahaha. Sebenarnya yang saya pantengin bukan blog ini sih, blognya mbak Fanda yang satunya, Fanda Classiclit. Saya benar-benar kagum dengan cara mbak Fanda mereview dengan bahasa Inggris, penuturannya benar-benar fasih dan elegan, sesuai dengan buku-buku yang mbak Fanda baca. Sepertinya karena mbak Fanda juga saya mulai tertarik dengan yang namanya buku klasik dan jatuh cinta.❤ I’m a fan, mbaaak. Dirimu keren banget.

2.  Surga Buku nya Mbak Mel

Oke, nama blognya surgabukuku. Saya suka sama blog iniii, salah satu blog dengan honest review menurutku. Mbak Mel juga banyak memposting tentang buku klasik, jadi suka baca reviewnya, karena seleranya hampir mirip dengan saya haha. Oh ya, yang saya suka dengan blog mbak Mel itu… koleksi-koleksi bukunya yang terkadang dipamerkan bikin ngiler. Apalagi coloring booksnya cantik – cantik. Selain itu mbak Mel ini aktif juga di IG, saya juga suka stalking IGnya, btw. Hahaha, gila itu koleksi Jane Eyrenya. :O

3. Bacaan Bzee

Ketemu sama mbak Bzee lewat acara interview memperingati ultah BBI beberapa tahun lalu. Kaget banget ternyata mbak Bzee itu dokter. Yang bikin saya memilih blog ini sebagai salah satu favorit adalah karena aku takjub banget ngeliat mbak yang satu ini masih konsisten dan getol dalam mereview plus mengadakan event rutin di tengah-tengah kesibukan jadi dokter. Saya paling suka baca “scene on three”, event yang di host sama mbak Bzee di dalam buku ini dan hanya saya ikutin beberapa kali :p

4. Books to Share oleh Astrid Lim

Mbak Astrid, salah satu bloger terkeren dengan koleksi buku impornya yang maknyus banyak banget bikin ngiler. Buku yang di review di blog ini adalah buku-buku yang lagi ngehits di dunia dan membuat saya jadi mupeng pingin beli juga. Eventnya yang Wishful Wednesday, keren banget masih dijalankan sampai sekarang dan bikin tambah mupeng. Pokoknya blog ini adalah blog yang paling bikin saya melek dan mupeng berat.

5. Ira Book Lover

Bloger satu ini… masuk ke dalam top five saya. Mungkin dari sekian banyak blog yang saya follow, blog Ira ini salah satu yang aktif sekali. Salut banget sama eventnya yang Baca Buku Perpus masih berjalan lancar jaya sampai sekarang. Tetap jadi blogger yang semangat yaaa *hug* Pingin banget sering ngereview kayak Ira.

Oh ya, itulah lima blog favorit saya. Tidak ada urutan pasti, hanya saja memang itulah lima blog yang paling sering saya kunjungi. Seandainya bisa menyebut semuanya pasti sudah saya sebutkan. Seandainya saya sedang tidak teler dan melihat keyboard laptop udah kayak bantal, saya akan mengoceh panjang lebar lagi tentang blog-blog lain.

 

The Middlesteins

20 Mar

Judul : The Middlesteins

Penulis : Jami Attenberg

Terbit : 2012

13525938

Masih ingat banget kata-kata guru saya, bahwa masalah sekarang sudah berkembang. Dulu, gizi buruk adalah masalah besar bagi banyak negara (dan masih sampai sekarang). Sekarang, gizi yang terlalu baik, alias berlebih menjadi masalah terbesar bagi sebagian negara. Kebetulan, menjadi masalah besar bagi keluarga Middlestein.

Korban utama dari masalah ini adalah Edie Middlestein. Ibu dari dua orang anak ini, memiliki berat badan yang sangat berlebih. Bukan hanya itu, dia juga memiliki penyakit-penyakit bonus seperti penyakit jantung dan juga diabetes mellitus. Keluarga Middlestein pusing tujuh keliling dengan kondisi kesehatan Edie. Kedua anaknya, Robin dan… emm… lupa siapa namanya, oh ya, Benny, serta istri Benny yaitu Rachelle memikirkan untuk memaksa Edie agar berdiet. Bagaimana tidak ngeri, Edie yang kedua kakinya sudah dipasang stent untuk memperlancar pembuluh darah akibat gangguan vaskularnya ini tetap tidak mau diet! Sementara kedua anaknya sedang memutar otak untuk mengubah kebiasaan Edie, Richard sang suami malah berlari tunggang langgang dan memilihkan untuk menceraikan Edie sedang sakit-sakitnya. Oh well…

Konflik keluarga inilah yang dibahas sedemikian rupa di dalam buku ini. Penulisnya menuliskan dengan style yang sepertinya lagi tren di genre kontemporer, yaitu dengan point of view yang bergantian di tiap babnya. Mungkin maksudnya untuk membiarkan kita mendalami masing-masing tokoh. Iya, jadi dalam buku ini kita bisa mendalami dari Edie jaman dulu (yang memang sudah gemuk) sampai jaman sekarang (yang jadi obes). Kita bisa juga mendalami bahwa Robin si grumpy dan not so likeable, menemukan cinta pada teman dekatnya sendiri. Tidak lupa si Rachelle yang bener-bener kaku dan obsesif. Plus, si kambing hitam, Richard Middlestein yang memulai masa-masa lajang di umurnya yang sudah tidak muda.

Sayang sekali, di dalam buku ini, hanya beberapa tokoh yang bisa menimbulkan simpati saya. Kebanyakan tokohnya menjengkelkan dan susah untuk disukai. Ya, seperti Robin dan Edie yang membuat saya gregetan. Robin dengan gayanya yang emo, grumpy, susah dimengerti dan bahkan ketika membaca bab tentang dirinya saja saya bingung bagaimana untuk mencintai karakter ini sebelum dia bisa mencintai orang lain. Belum lagi si Edie yang entah maunya apa, ditolong juga gak mau, dan malah bebal banget. Karakter – karakter di buku ini memang digambarkan sangat tidak flawless dengan berbagai kesalahan dan kekurangan di sana sini untuk menunjukkan betapa manusia itu kompleks (I guess…). Dan untuk menunjukkan hal ini, karakter yang diperlihatkan menjadi men-jeng-kel-kan. Super duper menjengkelkan.

Secara keseluruhan, semua tokoh di dalam buku ini, egois. Walaupun tidak semuanya saya benci, saya sedikit menyukai tokoh Richard apalagi interaksinya dengan cucu-cucunya. Richard mengingatkan saya kepada kakek yang ada di Modern Family, tapi dengan versi agak membosankan. Tapi setidaknya, Richard adalah salah satu tokoh yang ketika saya membaca babnya, membuat saya sedikit excited.Yang lainnya, hmm.

Saya akui penulis memang pintar dalam menceritakan ceritanya. Beberapa kali penulis menyelipkan sedikit cuplikan untuk masa depan tokoh setelah cerita selesai di narasi-narasi yang menceritakan masa kini. Misalnya saja, di dalam cerita tentang Emily, penulis menyelipkan bahwa bagaimana Emily yang tadinya ngefans berat dengan Robin akan menjadi jauh dan tidak berkomunikasi selama bertahun-tahun.  Bahkan saking bosannya dengan konflik dan karakter yang ada di masa sekarang, saya malah menemukan a glimpse of this future menarik.

Sebenarnya buku ini memiliki penulisan yang sangat mudah dibaca dan ringan. Tidak seperti buku “pintar” macam A Visit from the Goon Squad yang agak –agak membingungkan, buku ini mudah diikuti. Belum lagi jumlah halamannya yang tidak tebal. Satu lagi yang menurut saya sangat disayangkan dalam buku ini adalah makanan. Yaaaap, Jamie Attenberg berpuluh-puluh kali memiliki kesempatan untuk mendeskripsikan makanan yang bertebaran di dalam buku ini, (Well, yah mengingat tokoh utama hobi sekali makan segala jenis makanan) seharusnya deskripsi makanannya indah dan menggugah selera. Noooope, sayang sekali, deskripsi makanannya sangat sulit untuk dibayangkan. Bahkan beberapa kali saya mual dan malah enek gara-gara deskripsi makanannya. Saya bahkan tidak mau mencoba membaca buku ini sambil makan. Atau sambil liat makanan.  Probably, the book is my best way of diet.

Yah segitu dulu deh ngomel-ngomelnya tentang buku ini. Walaupun saya tidak suka, tapi saya bisa menyelesaikan buku ini dalam dua hari (mungkin karena tipis). Saya rasa, dua bintang cukup untuk buku ini. Sepertinya saya sedang enek dengan fiksi kontemporer, mungkin waktunya saya membaca klasik.

Talking about book and food, what is your favorite fiction about food ? Any classic book ?

2 of 5 chicken wings.

Her Life in Ink

13 Mar

Judul : Love, Rosie (a.k.a Where Rainbows End)

Penulis : Cecilia Ahern

Halaman : 512 halaman

Terbit : Desember 2016

147865

Ternyata dulu, internet sempat jadi heaven dan pelarian semua orang. Dulu internet kesannya damai banget, fun, jarang nemuin orang yang seradak seruduk sana sini, ngumpat sana sini, ngomong gak di filter sana sini. Buku ini mengingatkan saya pada zaman itu. Zaman dimana gliter di page friendster aja bikin heboh gak karuan.  Zaman dimana di forum sedikit banget yang namanya nyampah.

Love, Rosie ditulis pada masa itu. Buku ini berformat surat-suratan elektronik yang dikirim baik oleh Rosie maupun oleh orang-orang sekitarnya yang merupakan tokoh dalam buku ini. Tentulah, bagian ini yang membuat zaman ini terkesan sangat jauh di pikiran saya. Iya sih, tema yang diangkat adalah tema cinta yang pastinya jarang banget kadaluarsa walaupun sebenarnya sudah ada dari dulu. Lagi-lagi dan lagi-lagi, buku ini tentang friendzone yang sebenarnya lagi menjamur dimana-mana.

There were hundreds of them spread across the floor, each telling its own tale of triumph or sadness, each letter representing a phase in her life. She had kept them all.”

Jadi ceritanya berpusat pada Rosie yang punya sahabat cowok namanya Alex sejak umur 5 tahun. Mereka terpaksa terpisah negara dan dunia semenjak Alex pindah ke Boston dan Rosie tetap di Dublin, mengandung anak di luar nikahnya bersama teman SMA. Sepanjang buku, Alex dan Rosie saling mengirimkan email-email yang saling menceritakan kehidupan satu sama lain. Alex dan Rosie, keduanya berada di belahan bumi yang berbeda, dan memiliki hidup yang sama –sama berantakan, sangat membutuhkan satu sama lain. Bahkan semua orang di hidup Rosie, akan datang mengadu kepada Alex apabila Rosie ada masalah. Sampai suatu hari ketika Rosie berkunjung ke Boston, kemudian mereka Rosie diam-diam menyadari kalau dia menyukai Alex, dan Alex juga diam – diam menyadari kalau dia menyukai Rosie, namun… tidak bisa berbuat apa-apa karena keduanya sudah punya pasangan masing – masing.

Serius, tema seperti ini sepertinya cheesy. Cheesy karena sebenarnya cerita ini sudah tidak asing lagi dibahas. Tema friendzone, bisa kita temukan di buku keluaran tahun 1800an buatan Jane Austen. Misalnya Emma. Sampai sekarang, friendzone masih ada dimana-mana dan makin menjamur diagung-agungkan di dunia percintaan anak muda. Bisa dibilang bukan karena friendzonenya lah buku ini menjadi unik di mata orang.

But actually it’s good.

Oh ya, saya (lagi-lagi…) adalah bukan penggemar modern romance seperti ini. Tapi entah kenapa cerita ringan dan menghibur dari buku ini bisa menarik perhatian saya.  Gayanya Rosie yang suka happy-happy dan suka sama hingar bingar kota, bener-bener menghibur hati saya yang kalut habis OSCE UKMPPD. Belum lagi, olok-olokannya dengan Alex, sahabatnya yang lain Ruby, dan keluarganya membuat saya bisa cengengesan sendiri. Well, memang nggak sampai ngakak sih, tapi aura novelnya yang ceria lumayan menyenangkan untuk pelipur lara.

Dibalik cerita cintanya, karakter Rosie Dunn adalah yang paling menarik untuk diamati. Perkembangan karakternya sangat terlihat dan Rosie adalah salah satu dari sedikit karakter utama yang saya senangi (Kebanyakan saya tidak menyukai karakter utama). Rosie berawal dari anak remaja clumsy, yang terlalu cepat memiliki anak, dan memiliki emosi yang meletup-letup. Karakter ini akan berubah seiring perjalanan waktu (well, sampai umur 50 tahun seperti di novel) dan saya bisa bilang, Rosie adalah salah satu sosok yang kuat dan menginspirasi.  Banyak orang mengatakan bahwa buku ini terlalu panjang dan terkesan dipanjang-panjangkan, tapi saya menikmatinya. How else could I enjoy the character development, anyway? Kalau yang merasa tidak suka dengan panjangnya buku ini, selalu ada filmnya yang bersedia ditonton (Love the book better, but I love them alright)

Seperti buku romance contemporer lain, buku ini ringan untuk dibaca dan untunglah… untunglah… tidak ada kata-kata cheesy dan adegan yang membuat saya mual. Bisa ditoleransi dan buku ini lumayan menghibur. Plus, I really like all the British things. 

Three stars are fine, Rosie.

 

Children’s Literature Reading Project

12 Mar

CLRP

 

Sepertinya ini merupakan reading project pertama since ages yang saya ikutin. Setelah sekian lama saya main aman, sembunyi takut berkomitmen dengan proyek – proyek asik, akhirnya gatel juga pengen habisin TBR. Berhubung jadwal agak renggang dan tidak ada ehem… agenda besar yang menanti… ehem… akhirnya saya beranikan diri saja mengikuti CLRP yang dihost oleh mbak Bzee:)

Saya rasa CLRP  cocok buat saya yang sepertinya sudah kehilangan kemampuan membaca buku. Salah satu genre favorit saya adalah genre anak-anak, khususnya middle grade (as you can see on the list…) jadi hopefully, saya bisa menyelesaikan proyek ini dengan riang gembira dan hati senang.

Jadi langsung saja, ini adalah list yang rencananya akan saya baca dari tanggal 12 Maret 2016 – 11 Maret 2016

  1. A Wrinkle in Time -Madeleine L’Engle
  2. Howl’s Moving Castle – Dianna Wynne Jones
  3. Tune : Vanishing Point – Derek Kirk Kim
  4. Three Times Lucky – Sheila Turnage
  5. The Windy Hill – Cornelia Meigs
  6. Storybound – Marissa Burt
  7. The Shadows (The Book of Elsewhere #1) – Jacqueline West
  8. Peter Nimble and His Fantastic Eyes – Jonathan Auxier
  9. The Unwanteds – Lisa McMann
  10. The 21 Baloons – William Pene du Bois
  11. Juniper Berry – M.P. Kozlowsky
  12. The Inquisitor’s Apprentice (Inquisitor’s Apprentice #1) – Chris Moriarty
  13. Greyfriars Bobby – Eleanor Atkinson
  14. Bliss – Kathryn Littlewood
  15. Peter Pan – J. M. Barrie
  16. Little Women – Louisa May Alcott
  17. One Came Home – Amy Timberlake
  18. Navigating Early – Clare van der Pool
  19. Remarkable – Lizzie Foley
  20. See You at Harry’s – Jo Knowles
  21. The Rise and Fall of Mt. Majestic – Jennifer Trafton

List ini bisa berubah sewaktu-waktu. Masih agak bimbang dengan genre children – YA yang kadang mix. Oh ya, saya akan menulis review buku yang saya baca di blog ini juga.

Wish me luck.

 

Auschwitz All Over Again

29 Agu

Judul Buku : The Storyteller

Penulis : Jodi Picoult

Penerbit : Hodder & Stoughton

Tahun : 2013

Read on Kindle Format

18814085

Topik perang dunia II memang lagi senang-senangnya saya nikmati saya ini. Bukan karena saya ahli dalam peperangan (mungkin ahli dalam berperang melawan pasien bandel hahaha, nope kidding), ahli dalam perfuhreran, dan bukan karena saya Neo-Nazi (one of my friends thinks me as this), namun karena saya lagi penasaran-penasarannya dengan ini.

The Storyteller secara mengejutkan, ternyata menceritakan tentang perang dunia II. Sekian lama saya menyimpan buku ini di dalam kindle saya, dari jaman kindle touch (RIP :() sampai saya pindah ke android (cihuuy for kindle for android) buku ini tidak terbaca.  Bukan, bukan karena salah cerita pembukanya, saya suka banget dengan cerita pembukanya yang menceritakan Ania dan ayahnya yang dekat banget. Saya suka dengan cara Jodi Picoult menggambarkan aroma roti yang dipanggang. Saya suka bagaimana cerita pembuka sudah membicarakan tentang kematian, haha. Masalahnya adalah setelah cerita pembuka ini, saya disapa oleh Sage dan dengan pikirannya yang rada-rada dark, saya langsung malas membacanya dan yah… there it goes another book in my kindle.

Jadi ceritanya Sage Singer, seorang pemanggang kue-kue dan roti-roti nyam nyam di kotanya dan kebetulan cucu dari seorang korban Holocaust ini memiliki sahabat baru bernama Josef Weber, seorang kakek-kakek yang suka mampir ke toko kue tempat Sage bekerja untuk sekedar nongki dan ngobrol sama Sage. Cukup mencurigakan juga ini kakek, soalnya kemanapun Sage pergi, kakek Josef seperti muncul. Ternyata benar, setelah pendekatan yang cukup lama, kakek Josef meminta tolong kepada Sage untuk ehem… membunuh dirinya. Well …

“Inside each of us is a monster; inside each of us is a saint. The real question is which one we nurture the most, which one will smite the other.”

Yes, and inside of this book is not just a darkness side of Sage. Mungkin kalau saya tahu Jodi Picoult bisa menceritakan kejadian sejarah lewat tokoh-tokohnya dengan baik, saya tidak akan menunggu lagi untuk membaca buku ini sampai berlumut di kindle. Karena ternyata setelah saya sabar-sabarkan diri dengan pikiran Sage yang betul-betul dark (kind of wanting a happy book), akhirnya saya bisa merasakan bahwa buku ini bukan sekedar Sage yang bertemu dengan mantan Nazi, tapi lebih dari itu. Dan dari kata lebih maksud saya menyangkut dengan cerita mengerikan dari berbagai sisi mengenai pembantaian di Auschwitz, mengenai PTSD, mengenai keluarga, mengenai persahabatan, mengenai memaafkan, mengenai cerita paranormal fantasy which is surprisingly I liked.

Cara Mrs. Picoult menceritakan kejadian tiap kejadian mengerikan dari sudut pandang Minka adalah yang paling menarik untuk saya. Cerita Minka dan tentunya cerita dari Josef Weber mengenai apa yang mereka alami di Auschwitz bener-bener sadis dan gila. Hmm walaupun ini fiksi, tapi saya sempat nangis juga karena dua tokoh ini. Unik, di The Storyteller juga diselipkan cerita fantasi paranormal yang dibuat Minka mengenai Ania yang hidup di suatu kota fiktif. Cerita ini dibuat Minka untuk menggambarkan kehidupannya di era PD II dan ceritanya bagus banget. Entah karena saya kesambet atau apa, ini jadi satu dari sedikit, atau bahkan satu-satunya, cerita yang berbau-bau monster yang jatuh cinta sama manusia yang paling saya suka. Inilah yang membuat saya memutuskan bahwa Jodi Picoult berhak mendapatkan bintang lima (hotel kali…)

“Be kind to others before you take care of yourself; make whoever you’re with feel like they matter.”

Saya sarankan sih, membaca buku ini harus siap-siap dengan roti atau sesuatu yang manis-manis ketika membacanya. Deskripsi mengenai roti-rotian yang dibuat Sage bikin ngiler banget soalnya. Saya juga menyarankan untuk menyiapkan bantal dan tisu ketika dekat-dekat di akhir buku, karena wow… akhir ceritanya sangat tidak saya duga sebelumnya. (Well, my brain’s kind of never predict anything right since 1991, though.)

FIVE STORIES FOR THIS.

Now, which paranormal fantasy book is good enough for me ?

Survival is Insufficient, indeed.

2 Agu

Judul : Station Eleven

Penulis : Emily St. John Mendel

Penerbit : Knopf

Tahun Terbit : 2014

20170404

Inilah mengapa ekspektasi sebelum membaca buku adalah yang menentukan bagaimana saya bisa menikmati buku ini atau tidak. Melihat banyaknya review bagus dan gemilang dari buku ini, saya hampir ciut dan menyalahkan diri sendiri, kenapa bisa saya berbeda dengan kaum mayoritas?

Bukan berarti jelek, saya mengakui buku ini berisi tentang pemilihan kata yang kaya dan juga menghadirkan beberapa kutipan Shakespeare. Mungkin karena itulah buku ini termasuk ke dalam genre fiksi literature. Namun saya sendiri melihatnya sebagai sebuah campuran antara fiksi literatur dan sci-fi.

“No more Internet. No more social media, no more scrolling through litanies of dreams and nervous hopes and photographs of lunches, cries for help and expressions of contentment and relationship-status updates with heart icons whole or broken, plans to meet up later, pleas, complaints, desires, pictures of babies dressed as bears or peppers for Halloween. No more reading and commenting on the lives of others, and in so doing, feeling slightly less alone in the room. No more avatars.”

Ya, buku ini bercerita tentang dunia yang kehilangan sebagian besar populasinya akibat pandemi flu Georgia. Cerita post apocalyptic ini dibalut dengan bahasa yang indah dan narasi yang tidak kalah bagusnya, membuat buku ini banyak dipuja puji para pembaca.

Penulis menorehkan goresan awal pada cerita mengenai selebritis bernama Arthur Leander yang meninggal di panggung saat memerankan King Lear,beberapa jam sebelum dunia tiba-tiba heboh akibat adanya pandemi flu Georgia. Dari sini, pembaca diperkenalkan kepada beberapa tokoh lain seperti Clark, Kristen, Jeevan, Miranda, Elizabeth yang memiliki hubungan tersendiri dengan Arthur Leander sebelum populasi dunia terbabat nyaris plontos akibat virus flu. Plot yang sengaja dibuat oleh penulis memang maju mundur dan terkadang membahas latar belakang orang-orang sebelum terjadinya pandemi terkesan sangat rapih dan pintar.  Sayangnya, saya tidak secerdas para pembaca yang bisa menikmati buku ini dengan sepenuh hati. Awalnya saya pikir banyaknya tokoh yang diperkenalkan dengan cerita kehidupan mereka masing-masing akan membawa saya ke dalam suatu kesimpulan yang nantinya menjelaskan cerita ini secara luas, namun yang saya tangkap pada akhirnya adalah semua orang memiliki koneksi walaupun hanya melalui hal kecil. Sebenarnya, memikirkan bahwa penulis menghabiskan waktu lama untuk membentuk  jaring benang merah ini memang patut diapresiasi. Sayang sekali, sepertinya karena inilah saya jadi merasa bodoh.

Banyaknya tokoh yang dijadikan sudut pandang sebenarnya bukan masalah bagi saya. Saya bisa menikmati dan melahap habis buku Game of Thrones dan masih mengerti alur ceritanya bahkan mengingat nama-nama tokoh utamanya. Itu karena pada Game of Thrones, GRRM memberikan kesempatan untuk saya yang tidak begitu pintar ini agar bisa mengenal setiap tokoh. GRRM memperkenalkan tokohnya dengan pelan – pelan. Bedanya dengan Station Eleven, saya pikir tokoh yang dia perkenalkan agak setengah-setengah. Saya tahu, buku ini bercerita tentang banyak orang dan untuk membandingkan buku ini dengan GoT yang beribu halaman memang agak tidak adil. Namun, saya benar-benar tidak bisa menghayati bahkan berempati dengan Kristen, Jeevan, Miranda, Clark, dan lain-lain. Saya mendapat kesan bahwa saya hanya sedang mencicipi saus dari pentol, bukan makan pentolnya dan itu sangat saya sayangkan. Bagaimanapun cerdasnya suatu buku, saya lebih menikmati buku yang bisa membuat saya mengenal dan peduli dengan tokoh yang ada.

Walaupun saya bukan pembaca hardcore yang sudah membaca beribu-ribu buku, ini bukan pengalaman pertama saya menikmati karya yang membahas mengenai bumi yang telah hancur. Bahkan salah satu game kesukaan saya, The Last of Us, mengambil tema yang sama seperti buku ini. Anehnya, beberapa ide dari dunia yang diciptakan di buku ini juga agak tidak masuk akal bagi saya. Memang suasana yang diciptakan di buku ini memang suasana khas dari cerita-cerita post apocalypse, sunyi, senyap, berantakan, tidak ada listrik, banyak kriminal, ajaran sesat, bla bla bla. Namun baru sekali saya melihat ada sebuah gerombolan orkestra dan artis yang menamakan diri mereka Traveling Symphony berkeliling untuk manggung dari kota ke kota saat orang-orang memikirkan tentang bertahan hidup. Well, moto mereka “Survival is insufficient”…. God, please… Gimana kalau Traveling Healer atau Traveling School atau Traveling Library…? Atau Traveling Scientist ?

Saya suka dengan ide cerita penulis dan caranya menyangkut pautkan benang merah antar tokohnya. Mandel melakukannya dengan sangat baik. Namun sayang, ekspektasi saya terlalu tinggi terhadap buku ini. Saya mencari buku yang bisa membuat saya merasakan empati kepada tokohnya, sayang sekali buku ini tidak begitu.

I didn’t even shed a tear or groan or whatever while reading this.

Am I guilty to give this 3 stations ?

Dept. of Speculation

16 Jul

Judul : Dept of Speculation

Penulis : Jenny Offill

Tahun terbit : 2014

Penerbit : Knopf 

Read on Kindle Amazon for Android

17402288

Ah, saya harus menulis sekarang tentang buku ini, kalau-kalau nanti saya kelupaan seperti saya lupa menulis review The Book Thief sesegera mungkin dan kehilangan rasa-rasa overwhelming karena ceritanya. The Book Thief adalah salah satu buku favorit, ngomong-ngomong. Pengen banget menulis reviewnya sekarang, tapi karena sudah lama pasti review saya tidak bisa menggambarkan bagaimana saya nangis tertohok-tohok di akhir cerita. Whatever.

“They used to send each other letters. The return address was always the same: Dept. of Speculation.” 

Dept of Speculation, yap… buku ini mengingatkan saya dengan Lover’s Dictionary karya David Levithan, (mungkin sudah ada yang membacanya). Keduanya memiliki tema yang sama, yaitu tentang roller coaster suatu hubungan. Pada Lover’s Dictionary, cerita mengenai pahit manisnya percintaan sepasang kekasih diceritakan melalui bentuk kamus. Dept of Speculation berada satu level lebih tinggi, yaitu pahit manisnya sebuah pernikahan. Well, ain’t that a big problem… Walaupun Dept of Speculation tidak berbentuk seperti kamus, namun buku ini sama uniknya dengan Lover’s Dictionary, menuangkan ceritanya kepada pembaca melalui semacam potongan-potongan cerita yang diceritakan seseorang tanpa nama. Uniknya lagi, Dept of Speculation menyelipkan banyak sekali cerita, trivia-trivia, dan banyak sekali kutipan-kutipan yang kadang menohok kadang lucu. Saya pikir disinilah kekuatan terbesar dari buku ini, dari kutipan-kutipan yang ada. Saya mendapati diri saya sibuk menghighlight hampir semua kutipan yang ada di buku ini. Tolong diingat lagi kalau buku ini adalah tentang pernikahan dan saya yang belum menikah saja tertarik setengah mati dengan kutipan-kutipan yang diberikan.  Bukan kode, namun… wow… saya pikir menyelipkan kutipan ataupun fakta mengenai sesuatu di tengah-tengah konflik itu…wow!

“The Buddhists say there are 121 states of consciousness. Of these, only three involve misery or suffering. Most of us spend our time moving back and forth between these three.” 

Ketika saya menyebutkan bahwa Dept of Speculation unik, yang saya maksudkan adalah benar-benar unik. Buku ini tidak berbentuk seperti cerita biasa, bahkan pembaca tidak mengetahui tokoh dari buku ini. Alih-alih mengikuti fiksi pada umumnya, buku ini bercerita melalui seorang wanita (yes, at least we know it’s a woman) tanpa nama yang berceloteh sendiri seperti sedang curhat kepada pembaca. Alih-alih memperkenalkan diri dan mencoba memperkenalkan tokoh lain (suami dan anaknya) kepada pembaca, wanita ini langsung bercerita mengenai pertemuannya dengan suaminya, menikah, melahirkan, membesarkan anak perempuan, dan… boom ! bercerita tentang konflik di pernikahannya.

Yang saya suka dari tokoh ini adalah… saya bisa merasakan kecerdasan wanita ini. Well, entah karena saya pikir orang yang bisa mengingat banyak kutipan – kutipan dan membuat metafora pernikahan dengan menggunakan system tata surya (oh yaa, ada cerita mengenai astronot di sini, how cool is it!) adalah orang yang cerdas. Entah karena tokoh ini mengingatkan saya kepada Alice dari Still Alice yang gelarnya bertumpuk dan berderet. Yang jelas, saya merasakan penulis (yang merupakan penulis buku cerita anak-anak…)  berusaha menulis cerita yang cerdas dan unik dengan tokoh yang cerdas. Cerdas, bukan pintar. Cerdas, bukan sombong dan berusaha untuk menciptakan karya sastra dengan menggunakan kata-kata sulit yang jarang dipakai. Cerdas, unik, dan mungkin simpel. Bahasa yang digunakan tidak neko-neko.  Saking simpelnya, saya bisa menyelesaikan buku ini hanya dengan membacanya selama 2 jam. One sitting.

Untuk orang yang menyukai kutipan-kutipan, buku ini cocok untuk dibaca. Untuk orang yang ingin santai dan membaca buku yang berkualitas, buku ini pilihannya. And finally for someone who’s getting married… ( I may or may not indicating someone, here, haha…) this suits you.😛

“But now it seems possible that the truth about getting older is that there are fewer and fewer things to make fun of until finally there is nothing you are sure you will never be.” 

3 bridesmaids will be okay :)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya